Cara Bertani Cerdas

Buah Unggul. Diberdayakan oleh Blogger.
Setelah menunggu selama 8 tahun, tepatnya di tahun 2010 Made Supala mulai menjual varietas srikaya hasil penyilangannya yang diberinama Surix  dan Nona Sri. Nona Sri sendiri menjadi buah bibir bagi masyarakat untuk pertama kalinya saat di pajang dalam Pameran Pertanian Nasional yang digelar di Kota Denpasar tahun 2011. Sejak saat itu order bibit mulai bermunculan dari Medan, Jakarta, Jawa Timur, hingga ke Sulawesi Selatan. (ket foto : Made Supala & hasil persilanggannya Srikaya Lefyra)

Riky Hadimulya (45) pemilik nursery di Parung, Jawa Barat yang merupakan salah satu konsumennya, melakukan 2 kali order dengan pembelian masing-masing 150 buah bibit Nona Sri sebagai sampel seharga Rp 100.000 per pohon. "Panen yang pertama bagus, tapi pohon dari pesanan yang kedua lebih bagus lagi," ujarnya. 

Sedangkan Mujib pemilik nursery di Kudus telah 3 kali melakukan order sebanyak 100 pohon Nona Sri sebagai sampel dan bahkan sudah melakukan perbanyakan akan bibit Nona Sri sendiri. "Sekarang saya sudah perbanyak sendiri," katanya.

Hanya saja ada sebuah kelemahan yang dimiliki varietas jenis ini, tanaman hanya akan memberikan hasil buah yang optimal jika dibantu dengan penyerbukan buatan (campur tangan manusia), jika tidak maka hasil buahnya akan kurus / cacat dan tidak berbuah maksimal. Sebenarnya alat untuk mengambil serbuk sari telah berhasil dibuat untuk membantu penyerbukan buatan hanya saja alatnya harus di impor dari luar negeri. 

Kendala ini juga diutarakan oleh Riky, "jika kita harus melakukan peyerbukan buatan, itu akan sangat menguras waktu dan tenaga," katanya.

Selain masalah diatas, pemasaran produk juga menjadi sebuah permasalahan bagi seorang breeder, pasalnya varietas buah yang unggul belum tentu dapat terjual dan diterima di pasar. Pemilik varietas baru juga harus pintar-pintar dalam memasarkannya karena tidak jarang masyarakat masih ragu untuk membeli sebuah produk (varietas) yang belum dikenal. 

Menjual kepada nursery juga menjadi sebuah dilema, karena mereka bisa saja melakukan perbanyakan dari bibit yang dibeli dari Supala, "Dan saya tidak akan mendapatkan fee dari perbanyakan itu," ujar Made Supala. Padahal untuk menghasilkan sebuah varietas baru diperlukan investasi waktu dan uang yang tidak sedikit.

Melakukan paten untuk setiap varietas baru juga dirasakan kurang bermanfaat, pengurusan administrasinya saja sudah cukup rumit belum lagi pengurusan biaya untuk Hak Paten selama 25 tahun. Jika jumlah tanaman semakin sedikit atau ada varietas baru yang dipatenkan biaya yang akan dikeluarkan akan semakin banyak.

Untuk mensiasati hal itu Supala berupaya untuk memperlihatkan hasil persilangannya kepada pemerintah. "Saya berupaya untuk melakukan kerjasama dan mengenalkannya kepada para petani dan akan membatu pembiayaannya," ujarnya, namun sejauh ini belum ada tanggapan positif.

Tapi tantangan ini tidak membuat Made Supala berhenti menjadi seorang breeder, bahkan jika tidak bisa menjual varietas barunya ke pasar, dia berencana untuk menanamnya sendiri lalu menjuah buahnya. Salah satu varietas baru hasil persilangannya adalah Srikaya Lefyra yang merupakan persilangan dari Srikaya Pineapple dan Mulwo. Jenis Mulwo memiliki batu yang sangat banyak tapi pembuahannya tidak harus dibantu dengan penyerbukan buatan / bantuan manusia. Hasilnya didapat varietas srikaya dengan rasa yang enak dan warna kulit kuning sedangkan produktifitasnya menyerupai jenis Mulwo. "Kemungkinan tahun depan baru bisa dijual," katanya.

Baca juga 2 artikel sebelumnya : Berburu Varietas Unggul Baru dan Menjadi Breeder
Made Supala belajar pertanian bukan karena kemauannya sendiri tetapi lebih karena tidak memiliki pilihan lain. Tanpa uang Supala yang merupakan anak seorang petani ini terpaksa mendaftar di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) pada tahun 1972 lantaran biayanya gratis, “Saat pendaftaran saya hanya membawa jangkul,” Kata Made sambil tertawa mengenang. 

Setelah lulus Supala langsung bekerja sebagai seorang PPL di Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Dari pekerjaannya ini Supala mulai menyadari penderitaan para petani, “Jika petani tidak menanam buah unggul, tanaman hanya berbuah sekali atau kualitas yang dihasilkannya akan sangat rendah,” katanya. Dan masalah lain yang muncul, hanya sedikit orang yang mau berkecimpung sebagai pemulia tanaman, sedangkan petani sendiri tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk itu. Supala melihat permasalahan ini dan berusaha menjadi solusi.

Tidak bisa kembali sekolah karena pekerjaan yang dilakoninya, Made Supala mulai belajar sendiri (otodidak) pengetahuan sebagai pemulia tanaman. Waktu itu masih belum ada seminar dari universitas-universaitas tentang pemulian tanaman sehingga pada tahun 1998 dia memutuskan untuk datang ke IPB Bogor tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Disana Supala bertemu seorang mahasiswa dan meminta sebuah silabus tentang penyilangan tanaman.

Tidak mudah baginya untuk mempelajari pengetahuan baru yang dipelajarinya, terlalu banyak pengetahuan dasar yang tidak diketahui seperti taksonomi dan genetika. Dan dia mulai menjawab tantangan itu dengan membeli berbagai macam buku di Bogor, Semarang, Denpasar dan Yogjakarta, tetapi pertolongan justru lebih banyak didapatkannya dari kebun di dekat rumahnya yang juga sekaligus sebagai tempat praktek ilmu yang dipelajarinya.

Dengan segala keterbatasannya, Supala mulai melakukan uji coba menyilangkan jenis tanaman amphimixis dengan cara tradisional, mengambil serbuk sari di satu pohon dan memoleskannya di putik pada bunga pohon tanaman yang lain. Hal ini dilakoninya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapatkan hasil, “saya mencari tanaman amphimixis yang bereproduksi dengan cara fertilisasi antara jantan dan betina,” Kata Supala.

Jenis tanaman amphimixis hanya dapat menghasilkan buah dengan cara fertilisasi, dimana serbuk sari bertemu dengan putik bunga. Sedangkan kebalikannya adalah apomixes yang dapat berkembang menjadi buah walau tanpa fertilisasi contohnya buah mangis. Hal ini menjadikan jenis tanaman ini sangat sulit untuk disilangkan, “jika tanaman jenis ini disilangkan sulit untuk mengetahui apakah buah dan biji yang dihasilkan itu merupakan hasil persilangan atau hanya membawa bibit biasa yang hanya membawa gen tanaman aslinya,” katanya. Ini adalah mimpi buruk bagi seorang Breeder pasalnya butuh waktu bertahun-tahun untuk melihat tanaman berkembang.

Dengan keterbatasan informasi saat itu, tanpa internet seperti saat ini, sangat sulit untuk mengetahui jenis tanaman mana saja yang tergolong amphimixis dan apomixes. Satu-satunya jalan untuk mencari tahu hanyalah dengan jalan menanam sebanyak-banyaknya plasma nutfah di kebun miliknya, “kita bungkus bagian bunganya dengan kertas dan menghilangkan bagian serbuk sarinya, jika putik tetap berkembang menjadi buah berarti itu jenis
apomixes,” ungkapnya.

Made Supala mengumpulkan bibit dari berbagai tempat, ada yang dibeli dari nursery, dari teman temannya sesame pecinta tanaman dan terkadang dia mendapatkannya dengan mudah, ketika orang lain menganggap jenis tanaman itu tidak berharga tetapi baginya membawa gen potensial. Suatu hari di sebuah pameran dia mendapatkan tanaman sirsak berwarna kuning mencolok dengan jumlah biji yang sangat banyak dan pastinya akan sangat menggangu siapapun yang memakannya, apalagi rasa buahnya sangat hambar dijamin tidak akan ada yang menyukai buah ini. “Saya menyilangkan jenis ini dengan sirsak madu dengan harapan menghasilkan varietas baru dengan warna kuning pada bagian buah dan dagingnya tetapi rasanya manis seperti sirsak madu,” papar Supala.

Hasil eksperimen pertamannya adalah Srikaya Surix dan Nona Sri, keduannya merupakan hasil persilangan srikaya jenis Pineapple dengan san Pablo. Srikaya Pineapple memiliki tampilan kulit luar yang menyerupai buah nenas dengan rasa yang sangat manis, jumlah biji sedikit dengan warna daging yang berisi semburat berwarna kuning. Sedangkan San Publo adalah salah satu varian jenis Mulwo (annona reticulata), warna buahnya merah mencolok dengan kulit yang halus tetapi rasanya tidak begitu manis. Keduannya disilang dengan harapan akan mendapatkan varitas tanaman baru dengan rasa manis dari Pineapple dengan kulit yang lebih halus dan berwarna merah seperti San Publo.

“Untuk mendapatkan hasil diinginkan kita harus menyilangkan banyak buah,” ungkap Supala. Membutuhkan waktu sepuluh bulan untuk membesarkan jenis Pineapple sebelum siap disilangkan dengan San Publo. Tiga sampai empat bulan sejak disilangkan menunggu berbuah dan akhirnya mendapatkan bibit hasil persilangan, sekitar tiga tahun lebih menunggu bibit baru berbuah dan diseleksi mana yang paling potensial dari tampilan dan rasa, dari seleksi itu munculah jenis Surix dan Nona Sri. Dari segi tampilan keduannya mirip dengan warna merah hanya saja Nona Sri lebih besar dan kulit buahnya yang halus, ”Warna merah dan kulitnya yang halus dari Sun Publo, sedangkan dari tampilan titik-titik di kulit, rasa manis dan jumlah biji yang sedikit dari jenis srikaya pineapple,” katanya. Tetapi proses ini belum selesai, dia masih harus menunggu tiga tahun lamanya untuk memperbanyak bibit hasil seleksi tersebut. Dan Made Supala menpercayakan kepada beberapa petani Singaraja untuk melakukan perbanyakan tanpa satupun catatan yang mengarah kepadanya atas hasil eksperimen yang dilakukannya.

Bersamaan dengan itu Made Supala memutuskan untuk pensiun dini sebagai seorang PNS agar dapat berkonsentrasi bekerja sebagai seorang breeder / pemulia tanaman. Atas saran dari temannya dia memutyuskan untuk mengembangkan nurserynya dan membuka outlet penjualan bibit di Denpasar, Bali sekaligus sebagai tempat penyimpanan bibit hasil hobinya melakukan eksperimen di kebun miliknya. Dari nursery di Denpasar sedikitnya 5000 bibit telah terjual setiap tahunnya, sedangkan untuk menunjang kehidupan sehari-hari istrinya Made Supala sejak tahun 2006 menjual dodol yang merupakan salah satu makanan tradisional Bali.

Selain Srikaya dia juga melakukan persilangan pada buah sirsak, jambu, jeruk termasuk bunga Plumeria yang lebih dikenal dengan Jepun Bali. Salah satu eksperimen yang sedang dilakukannya adalah menyilangkan Jeruk Taiwan dengan jeruk lokal, “Jeruk asal Taiwan lebih manis tetapi yang local lebih tahan penyakit,” katanya. Namun yang menjadi kesukaannya adalah srikaya, hal ini terlihat dari banyaknya varietas srikaya yang berbeda yang ditanam di kebunnya, salah satunya adalah srikaya bima dari Sumbawa, jenis ini sangat cepat berbuah dengan jumlah biji yang sangat banyak. Sekarang dia menyilangkan jenis ini ke semua jenis srikaya yang dimilikinya.

(Artikel merupakan hasil traslate Majalah Tempo versi Inggris, selanjutnya ke Agronomi Amatir III)
Mentri pertanian yang baru sangat mengharapkan ketersediaan bibit varitas unggul untuk meningkatkan produksi pertanian/pangan di Indonesia. Sedangkan sementara ini produksi bibit unggul masih dimonopoli oleh perusahaan komersil dan lembaga penelitian Negara. Petani yang paling mengetahui varietas mana yang paling cocok dengan kondisi tanah mereka selama ini hanya bisa menerima apa yang disediakan, tanpa bisa mengembangkan bibit unggul sendiri walau mereka mampu melakukankannya, dengan modal terbatas. Beberapa pemulia tanaman secara mandiri telah mengambil inisiatif untuk meningkatkan genetika tanaman pangan dengan teknologi sederhana tanpa subsidi dari pemerintah. Berikut laporan majalah Tempo edisi bahasa inggris dari Bali dan Sulawesi Selatan.

Buah Srikaya Sempurna
PNS asal Buleleng, Bali belajar secara otodidak cara menyilangkan bibit unggul. Kini namanya sudah dikenal tidak hanya di Bali tetapi juga di Pulau Jawa.

Terdapat buah Srikaya yang tidak biasa bergelantung pada sebuah pohon buah unggul di sebuah nursery yang terletak di Kota Singaraja, Bali. Kulitnya berwarna merah kegelapan, tidak berwarna hijau sebagaimana warna buah srikaya (annona squamosa) asli asal Indonesia, beberapa bahkan tidak memiliki benjolan. Sebaliknya permukaanya sangat halus dengan beberapa titik kecil. Ketika dibuka, daging buah hampir sama dengan buah srikaya umumnya, berwarna putih. Rasanya sangat manis dan lembut seperti es krim.

Dilihat dari ukuran buah ini tergolong besar, hanya dengan dua atau tiga buah saja beratnya mencapai satu kilo gram. Pada srikaya biasa jumlah bijinya bisa mencapai 90 atau 100 butir namun srikaya dari Nursery ini justru sangat sedikit, tidak hanya itu daya simpannya pun bias mencapai seminggu sedangkan buah srikaya umumnya hanya bertahan tiga hari.

Dengan kelebihan ini Srikaya Nona Sri menjadi incaran para kolektor buah di Bali dan pulau Jawa. Mujib Bambang Suroso (50), pemilik Sari Puspa Nursery di Kudus, Jawa Tengah mengatakan Nonasri menjadi produk terlarisnya sejak mulai dijual olehnya. “Dalam satu bulan kita bias menjual 25 bibit,” katanya.

Sebuah Perusahaan Internasional yang bergerak di bidang retail buah-buahan juga sempat menawarkan kerjasama. “Mereka bilang akan mengambil sebanyak dan seharga berapapun,” ungkap Made Supala (59), yang merupakan pemilik tanaman Srikaya yang dijual di Nursery milik Mujib Bambang Suroso. Namun saat itu dia menolak permintaan tersebut, “saat itu saya masih melakukan pengembangan untuk mendapatkan varitas baru lainnya.”

Made supala memang dikenal sebagai seorang pemulia (breeder) tanaman buah, sebuah profesi yang sangat langka di Indonesia. Sedikitnya dia telah mengembangkan enam varietas baru buah srikaya, sirsak dan jambu biji. Prof. Made Sri Prana, dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bergerak di bidang penelitian bioteknologi mengatakan sangat sulit menemukan seorang yang bekerja sebagai breeder di Indonesia karena butuh waktu yang sangat lama untuk membuahkan hasil. “Made Supala tergolong orang yang tekun, walau banyak rintangan dia tetap bertahan,” kata Made Sri Prana, yang telah mengenal petani dari Buleleng, Bali ini cukup lama.

Made Supala mungkin satu-satunya pemulia tanaman buah srikaya yang ada saat ini.  “Saya sempat meminta dia untuk menulis sebuah buku supaya kita semua bisa mengetahui dan belajar apa saja yang telah diketahuinya dari pengalaman-pengalamannya selama menjadi pemulia tanaman,” kata Mujib yang telah mengelola nursery selama 30 tahun lamanya. Pusat penelitian biasanya melakukan experiment terhadap tanaman musiman karena periode lebih cepat, menyilangkan buah sumangka contohnya, hanya butuh enam bulan untuk melihat hasilnya. Hal ini sangat kontras jika membandingkan dengan usaha Made Supala yang membutuhkan waktu delapan tahun untuk menghasilkan satu varietas baru tanaman srikaya. (Artikel merupakan hasil traslate Majalah Tempo fersi Ingris, selanjutnya ke Agronomi Amatir II)
Lama tidak muncul kali ini kita coba sedikit tentang Jambu Bol Granada dan pendahulunya Jambu Bol Jamaika yang sudah  mulai dikenal luas.

Berbekal dua pohon Jambu Granada yg baru belajar berbuah, dibandingkan dgn Jambu Jamaika secara kasat mata dari ukuran dan warna bagian luar terlihat tidak ada perbedaan. Tetapi begitu dibelah terlihat nyata ukuran daging buah Jambu Granada lebih tebal dengan biji yg lebih kecil, bisa dilihat di gambar sebalah kiri Granada dan yang kanan Jamaika.

Perbedaan kedua dengan daging yg lebih tebal dan daya tahan simpan juga lebih tahan. Kalau Jambu Jamaika tahan sekitar 2-3 hari setelah di petik saat matang, Jambu Granada bisa 3-4 hari, jangan samakan dengan sodaranya jambu air seperti Jambu citra ya he3,.. untuk yang komersil untuk meningkatkan daya tahan bisa dipetik sebelum benar-benar matang, sekedar info harga buah Jambu Jamaika di Pasaran saat ini berkisar Rp 25 - 30 ribu per kilo nya.

Perbedaan ketiga ada pada rasa, kayaknya ini yang paling penting tujuan dari menanam tanaman buah yang utama kan mencari rasa buahnya he3,.. Buah Granada rasanya benar-benar manis tanpa rasa kecut, sedangkan Jamaika masih memiliki rasa kecut sedikit.

Kalau ada yang bertanya apa ada jenis jambu sejenis lainnya yang lebih potensial.? maka jawabannya ada, dari hasil rekayasa Buah Unggul sudah berhasil mengembangkan Jambu Granada dengan ukuran yang lebih besar, tebal dan pastinya lebih berat bisa juga disebut Super Granada. Tapi maaf ya yang ini belum dipasarkan he3,..
Petani asal Buleleng mendapatkan perhargaan tingkat Nasional sebagai pelestari Sumber Daya Genetik (SDG) Tanaman Pertanian, yang diberikan langsung oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Haryono pada Kongres Nasional V dan Seminar Nasional Sumber Daya Genetik Pertanian di Hotel Sanur Paradise Denpasar Bali, Rabu (25/6/2014) kemarin.

Dalam kondisi iklim yang terus berubah, eksistensi sumber daya genetik saat ini sangat rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah. Untuk itu, peningkatan nilai tambah SDG memegang peranan penting dalam menjaga kelestariannya. Pembabatan hutan untuk dijadikan lahan sawit dan alasan lainnya menjadi topik hangat saat diskusi karena bertanggung jawab atas terhapusnya jutaan plasma nutfah sebagai sumberdaya genetik.

Dalam acara tersebut Kepala Balitbangtan sangat mengapresiasi atas keberhasilan 10 petani dalam melestarikan SDG tanaman pertanian. Sepuluh petani tersebut adalah H. Ahmadul Marzuki dari Kalimantan Selatan, Drs. Made Supala dari Bali (posisi tengah dalam foto), Ir. Sapirim, MM dari NTB, Hamsadi dari Kalimantan Timur, Wawan Kustiawan dari Jawa Barat, Budiansyah dari Kalimantan Barat, Ir. Dian Rossana Anggraini dari Bangka Belitung, Samanhudi dari Jawa Timur, Suyatno dari Lampung dan Lasmadi dari Kalimantan Tengah.

Dari 10 orang tersebut H. Ahmadul Marzuki (sebelah kiri foto pada atas) yang fokus melestarikan SDG tanaman langka di Kalimantan Selatan yang terkenal dengan keaneka ragaman hayati mendapatkan nilai tertinggi dari tim penilai yang disusul dengan posisi kedua oleh Made Supala (posisi tengah) dengan melestarikan tanaman buah langka dan posisi ketiga diraih Sapirim (paling kanan) dengan melestarikan tanaman obat-obatan.

Selain sebagai pelestari, Made Supala juga dikenal sebagai pemulia tanaman buah yang masih langka di Indonesia, salah satu silangan yang terbarunya adalah Srikaya Lefyra yang berwarna kuning dengan  rasa manis, dan tidak kenal musim, Jambu Bol Hitam yang diperbesar dari ukuran aslinya (300 gram jadi 600 gram) dengan sistim pemuliaan poliploidi dan Pisang Kepok yang tahan terhadap penyakit layu.
Srikaya Lefyra dipamerkan oleh Ir. Sri Wijayanti Yusuf, M.Agr.Sc Direktur Perbenihan Hortikultura, Dirjen Hortikultura Deptan, dan Prof Dr Sobir Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB (paling kanan).
Dikonfirmasi terkait kegitan tersebut, Made Supala mengajak masyarakat untuk melihat potensi lain dari sebuah tanaman, tidak hanya sebatas nilai ekonominya saja. "Ada dua nilai yang dimiliki oleh tanaman, pertama yang memiliki nilai ekonomi dan kedua tanaman dengan potensi ekonomi. Contoh yang saat ini saya kembangkan, jambu bol putih rasa kecut dengan ukuran jumbo memanjang seperti mentimun dan jambu bol hitam dengan nilai ekonomi tetapi memiliki kekurangan tidak tahan simpan, disini kita memodifikasi sifat tanaman supaya lebih baik lagi atau mengambil sifat yang kita inginkan dari buah itu," papar Made Supala. (lz)
Jambu bol bulat asal Papua temuan Karim Aristides berbobot hingga 400 g per buah dan berdaging tebal
Pohon jambul bol bulat asal Papua banyak
ditanam di halaman rumah warga
Buah Unggul - Jambul bol asal Papua  bersosok besar dan berdaging tebal. Potensial dikembangkan.

Saat menyusuri jalan Argapura, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Karim Aristides mengurangi laju mobil, lalu menepi di depan sebuah lapak buah-buahan. Ia menghentikan mobil lantaran penasaran pada tumpukan buah sekepalan tangan orang dewasa. Buah itu berbentuk bulat dan berwarna hitam. Di antara tumpukan buah itu, dua buah di antaranya berbobot mencapai 400 gram per buah.

Karim lantas membelah salah satu buah. Begitu terbelah tercium aroma khas jambu bol Syzygium malaccense. Ia menuturkan ciri khas jambu bol juga terasa dari tekstur daging buah yang lembut seperti kapas dan berair jika buah sudah matang.  “Kalau buah yang belum terlalu matang teksturnya renyah. Rasa buah matang manis sedikit masam sehingga menyegarkan,” ujarnya. Menurutnya baru kali itu ia menjumpai jambu bol seperti itu.

Karim lalu meminta alamat pemilik pohon kepada penjual buah. Ia lalu menyambangi pohon itu. Saat itu, pada 2010, beberapa dompol buah masih tersisa bergelayut di pohon. “Bentuk daunnya memang mirip dengan jambu bol, tapi lebih panjang, bisa mencapai 40—43 cm. Daun jambu bol di Pulau Jawa dan Sumatera rata-rata hanya 25 cm,” ujar penemu durian pelangi papua nan cantik itu. Sayang, si empunya pohon melarang Karim memanjat pohon untuk memotret buah. Ia pun hanya membeli beberapa buah untuk dibawa ke rumah. Karim pun urung menelusuri lebih lanjut asal-usul buah itu. Ia berpikir mungkin di Pulau Jawa dan Sumatera jambu bol seperti itu juga ada.

Jambu bol di tanahair lazimnya berbentuk
lonceng dan berwarna merah cerah
Dua tahun berselang hasrat untuk menelusuri keberadaan jambu bol unik itu kembali menggebu setelah Karim mengirim foto jambu bol itu ke beberapa ahli buah. Salah satunya peneliti Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Panca Jarot Santoso SP MSi, dan Dr M Reza Tirtawinata MS dari Taman Wisata Mekarsari. Kedua ahli itu berpendapat sama: belum pernah melihat jambu bol seperti itu. Begitu juga dengan ahli Botani di Bogor, Jawa Barat, Gregori Garnadi Hambali, saat Trubus memperlihatkan foto jambu bol papua itu. “Saya pernah lihat jambu bol asal Papua yang juga berwarna hitam, tapi bentuknya lonceng, bukan bulat,” ujar Greg Hambali.

Berbagai pendapat itu menguatkan dugaan Karim jika jambu bol itu merupakan buah endemik Papua. “Tadinya saya menduga jambu bol itu juga tersebar di kawasan timur Indonesia. Tapi, saat saya berkunjung ke Ternate dan Halmahera, Maluku Utara, baru-baru ini, saya tidak menemukan satu pun jambu bol bulat,” kata Karim.

Pada Mei—Juni 2013 Karim pun kembali menelusuri lokasi pohon. Ia berkeliling ke kawasan Jayapura, Abepura, Depapre, hingga Sentani. Ternyata populasi jambu bol itu cukup banyak. “Hasil pengamatan saya 95% jambu bol yang ditanam warga bukan jenis lonceng yang kerap ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera, tapi yang bulat,” kata pria 49 tahun itu. Sayang, saat penelusuran kali itu sebagian besar buah masih pentil, baru sebesar jempol orang dewasa.

Pada kunjungan berikutnya Karim tidak sampai menemukan buah matang karena hampir seluruh pentil itu rontok akibat terpaan air hujan. “Mungkin karena anomali cuaca, sampai saat ini curah hujan di Jayapura dan sekitarnya masih tinggi,” kata Karim. Baru pada 3 Juli 2013 Karim menemukan pohon berbuah lebat yang tumbuh sekitar 30 m dari pantai Base-G, Jayapura Utara.
Pohon itu tumbuh di halaman rumah Emses Yoku, di antara pohon kelapa dan mangga. Pada beberapa cabang sekunder tampak dompolan buah. “Buah yang terbesar mencapai 320 g per buah. Padahal, si pemilik pohon tidak pernah memberi pupuk,” ujarnya. Menurutnya pohon itu bisa dijadikan pohon induk karena dapat berbuah lebat saat pohon lain buahnya rontok akibat cuaca tidak menentu.

Karim pun memborong beberapa kilogram buah. Ia lalu mengirimkan buah itu ke beberapa kolega di berbagai daerah seperti penangkar buah di Bali, Made Supala, dan Hendro Suparman di Pontianak, Kalimantan Barat. “Saya ingin meyakinkan jika jambu bol itu memang hanya tumbuh di Papua,” kata Karim. Jawaban mereka juga sama: belum pernah melihat jambu bol seperti itu. Made Supala lantas mengirimkan foto jambu bol unik itu kepada peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bogor, Made Sri Prana PhD. “Saya juga belum pernah melihatnya sebelumnya,” kata mantan Kepala Kebun Raya Bogor pada 1983—1987 itu. Begitu juga kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Sobir PhD.

Jambu bol bulat asal Papua itu diduga varian
jambu bol Syzygium malaccense
Varian
Menurut Greg Hambali, jambu bol bulat asal Papua itu kemungkinan varian jambul bol Syzygium malaccensis. “Varian itu kemungkinan muncul akibat persilangan alami di alam,” ujar Greg. Pendapat serupa juga dilontarkan Made Sri Prana. “Ini menjadi bukti kekayaan hayati negara kita luar biasa. Oleh karena itu saya berharap jambu bol itu segera diperbanyak sebelum didahului negara lain,” ujar doktor alumnus University of Birmingham, Inggris, itu.

Reza menuturkan jambu bol itu berpotensi dikembangkan sebagai buah konsumsi karena berukuran besar dan porsi buah yang dapat dikonsumsi tergolong tinggi karena berdaging tebal. “Hanya saja soal rasa masih perlu diperbaiki. Jambu bol terakhir yang saya temukan rasanya justru cenderung hambar,” kata Karim. Ia menduga rasa kurang manis itu karena pohon jambu bol ternaungi pohon mangga dan kelapa sehingga intensitas matahari yang diterima tanaman kurang. Akibatnya fotosintesis kurang optimal. Sementara pohon jambu bol yang rasa buahnya manis tumbuh menyendiri di tepi tebing sehingga terpapar sinar matahari penuh. “Kalau soal rasa dapat diperbaiki dengan pemupukkan intensif,” ujar Reza.

Menurut Made Sri Prana rasa buah juga dapat diperbaiki dengan mengawinsilangkan jambu bol bulat itu dengan jambu bol unggul berasa manis. Itulah yang rencananya akan ditempuh Made Supala. Ia berencana menyilangkan jambu bol papua itu dengan varian jambu bol asal Spanyol yang rasanya manis. Jambu bol asal Negeri Matador itu juga tahan simpan hingga 6—7 hari dalam suhu ruang karena berdaging padat. Sementara jambu bol bulat dan hitam asal Papua yang sudah matang hanya tahan 2,5 hari. Dengan persilangan itu diharapkan dapat  memperpanjang daya simpan jambu bol papua.

“Kita juga harus berimprovisasi untuk meningkatkan nilai tambah plasma nutfah yang kita punya,” kata Karim. Dengan begitu di masa mendatang jambu bol eksotis itu tak sekadar menjadi tanaman koleksi, tapi juga dapat membanjiri pasar buah tanahair.

Persilangan buah nona dan srikaya melahirkan nona sri.

Penampilan buah srikaya itu unik. Warna kulit buah merah tua, tanpa “bentol-bentol” seperti srikaya Annona squamosa. Justru sebaliknya, permukaan kulit buah seperti melesak ke dalam. Pada beberapa bagian kulit buah tampak bintil-bintil kecil. Begitu dibuka, tekstur daging buahnya persis srikaya, warnanya dominan putih, tapi ada semburat merah pada bagian di dekat kulit buah. 
Tak sedikit lahan-lahan perkotaan yang dulunya persawahan dan perkebunan kini berubah menjadi areal perumahan dan perindustrian. Ini membuktikan jika para pemilik lahan menganggap hasil dari bertani sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Apa yang harus dilakukan? 

SELAMA ini harga jual hasil pertanian terkadang tidak memadai dengan tingginya biaya operasional.

Ini menjadikan sebagian petani berpikir dua kali untuk menjalankan kegiatan sebagai petani hingga akhirnya mereka beralih ke bisnis lainnya. 

Menurut beberapa pebisnis tanaman buah-buahan, jika dijalankan dan dikonsep dengan baik, berkebun atau bertani bisa menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. 

“Namun, sebenarnya jika dikonsep dengan benar ternyata bertani ataupun berkebun juga bisa menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Mungkin dengan cara mengembangkan teknik bertani untuk meminimalisasi operasional hingga memperbesar hasil panennya,” demikian diungkapkan Misca Ariana Dana, pemilik usaha tanaman buah-buahan Palasari Green di Renon. 

Menurutnya, untuk meningkatkan hasil pertanian tampaknya varietas tanaman yang dikembangkan juga mempengaruhi besar kecilnya keuntungan. “Kita harus bisa melihat peluang pasar dengan varietas tanaman yang masih langka serta besarnya kebutuhan pasar. Sepertinya di antara varietas tanaman yang berpotensi besar diserap pasar, buah-buahan unggul bisa dijadikan sebagai solusinya untuk memaksimalkan hasil lahan pertanian,” ucapnya. 

Menurutnya, asalkan dikonsep dengan baik sebenarnya bertani cukup besar keuntungannya, apalagi jika bisa mengembangkan varietas yang langka dan sedang dibutuhkan pasar. 

Dicontohkan Made Supala, pembudi daya tanaman buah unggul dalam menganalisa berkebun jambu citra. Misalkan harga bibit jambu citra dalam polibag di pasaran berkisar Rp 75 ribu. Untuk 1 hektar lahan dengan penanaman berjarak 7 meter membutuhkan 204 pohon. Menurutnya, jambu citra yang penanamannya mulai ukuran polibag membutuhkan waktu hingga 2 tahun baru bisa mulai panen. 

Pada usia muda, sejak awal berbuah jambu citra bisa menghasilkan 50 kg setiap pohonnya, atau total panen mencapai 10.204 kg per hektar. Jika misalnya harga jambu citra Rp 10.000, nilai yang dihasilkan pada usia muda ini mencapai Rp 102.040.000/hektar/panen. Untuk pohon yang mencapai usia dewasa panennya bisa mencapai 200 kg per pohon atau mencapai 40.816 kg per hektar dengan nilai yang dihasilkan  Rp 408.163.265. Sedangkan untuk jambu citra masa panennya bisa 2 kali dalam setahun. 

Biaya awal yang diperlukan selain lahan kita juga harus mempersiapkan 204 bibit jambu citra. Jika dikalikan Rp 50.000, modal bibit mencapai Rp 10.200.000. Kita juga harus mengeluarkan biaya perawatan selama 2 tahun sambil menunggu masa mulai berbuah.

Selain itu untuk memaksimalkan hasil panen perlu juga membungkus buah agar aman dari serangan penyakit, dan mengenai biaya bungkus dan tenaga pembungkus tiap masa panennya berkisar Rp 5.000.000. 

Jika melihat kalkulasinya, dari beberapa kali panen awal sudah bisa menutup biaya operasional. Selanjutnya kita akan menikmati hasil secara kontinu dengan nilai yang cukup besar untuk usaha perkebunan. Dengan analisa biaya dan hasil dalam berkebun jambu citra ini mungkin para pembaca bisa berkalkulasi untuk berani menjalankannya.
 
Dikutip dari Binis Bali
Indonesia kaya akan tanaman buah-buahan. Namun, sungguh ironis, buah-buahan asal Indonesia dikembangkan negara lain. Kenapa?

Berikut laporannya.
BANYAK tanaman tumbuh subur di Indonesia . Hampir masing-masing daerah di Indonesia memiliki tanaman lokal.

Namun, banyak plasmanuftah Indonesia yang dikembangkan negara lain seperti kecapi jadinya kecapi bangkok, bidara laut di negara lain menjadi putsa, jambu rata menjadi jambu jamaika, durian tanpa duri dari Lombok serta tanaman lainnya banyak dikembangkan di negara lain. 

Menurut Made Supala, pengembang dan pembudi daya buah unggul, selama ini cukup banyak ditemukan plasmanuftah yang luar biasa yang kita miliki. Contohnya, tanaman buah durian pelangi, serta durian tanpa duri asli Lombok dikembangkan khususnya di Thailand . 

Dikatakan, tanaman buah yang dikembangkan oleh petani di luar negeri tersebut dengan teknologi pertanian dan pascapanen yang baik bisa berproduksi sepanjang bulan serta tahun dan dari segi rasa juga cukup baik.
Supala melihat, sektor pertanian dan pengembangan tanaman buah-buahan belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah sehingga petani dan pembudi daya tanaman kalah dari segi teknologi, kontinuitas, produksi dan lainnya. "Teknologi pertanian yang mereka miliki cukup baik sehingga dari segi produksi bisa sepanjang bulan serta tahun," ujarnya. 

Hal senada diungkapkan Komang Ariana Dana, pemilik Palasari Green, penjual tanaman buah langka di bilangan Hayam Wuruk, Denpasar. Buah-buahan lokal saat ini sudah mulai langka. Namun, negara lain justru mengembangkan buah-buahan lokal yang ada di Indonesia . 

Dalam penuturannya, Ariana mengaku sedih, sebab tanaman lokal justru "dibajak" dan dikembangkan oleh bangsa lain. "Kita contohkan seperti jambu mutiara. Tanaman itu merupakan tanaman asli Indonesia . Namun yang mengembangkan justru Thailand . Begitu juga dengan matao coklat buah asli Papua, kecapi, durian tanpa duri dan lainnya," ungkapnya. 

Dia melihat, sektor pertanian di negara lain seperti Thailand menjadi prioritas serta memperoleh subsidi berupa teknologi pertanian, maupun pascapanen, penelitian yang intensif, serta benar-benar diperhatikan oleh pemerintahnya. "Di negara kita, pertanian disepelekan," ujarnya. 

Perkembangan buah-buahan kita juga masih jauh dibandingkan negara lain. Hal itu bisa dilihat dari segi pasar yakni buah-buahan impor mendominasi. "Kalau saya lihat di pasaran hampir 70 persen yang dijual merupakan buah impor, sisanya baru buah lokal," ungkap Ketut Darmawan, pengembang pertanian organik serta pemembina petani organik dan pemilik UD Darma Puri Farm. 

Dia melihat, dari segi teknologi petani luar negeri unggul dan mereka bisa membuat komoditi-komoditi yang tidak mengenal musim. Di Bali petani lebih banyak tergantung pada musim, sehingga harga buah-buahan lokal tidak stabil. 

"Jika panen, harga akan anjlok, begitu pula jika tidak panen harga akan mahal. Sementara harga buah impor cenderung stabil," imbuhnya.

Kini telah ada tanaman buah persilangan antara buah srikaya dengan buah nona di Bali . Bibit tanaman buah tersebut juga sudah dipasarkan. Seperti halnya di stan tanaman buah unggul milik Made Supala di kawasan Padanggalak Denpasar, ada berbagai tanaman buah unggul yang unik, salah satunya yakni nona sri.
Buah mangga selama ini dikenal kaya serat. Bagi masyarakat yang mengkonsumsi mangga, kebanyakan hanya tahu manfaatnya untuk melancarkan pencernaan dalam tubuh. Padahal, kandungan buah mangga cukup banyak.
Perkembangan di perkotaan saat ini yang makin pesat, membuat lahan pertanian makin berkurang. Ini membuktikan jika para pemilik lahan menganggap hasil dari bertani sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Menurut Made Supala, belum lama ini, dengan berkebun buah-buahan unggul akan mampu menjadi solusi memaksimalkan hasil lahan. 

Diungkapkan, harga jual hasil pertanian yang terkadang tidak sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan petani, mengakibatkan petani menjadi ragu untuk menjalankan profesi sebagai petani, hingga akhirnya mereka beralih profesi lainnya. Namun, lebih jauh diungkapkan, jika dikonsep dengan benar bertani bisa menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Mungkin dengan cara mengembangkan teknik bertani untuk meminimalisir operasional hingga memperbesar hasil panennya.

Dikatakan, untuk meningkatkan hasil pertanian tampaknya varietas tanaman yang dikembangkan juga mempengaruhi besar kecilnya keuntungan. “Kita harus bisa melihat peluang pasar dengan varietas tanaman yang masih langka serta besarnya kebutuhan pasar. Sepertinya di antara varietas tanaman yang berpotensi besar diserap pasar, buah-buahan unggul bisa dijadikan sebagai solusinya untuk memaksimalkan hasil lahan pertanian,” katanya. 

“Asalkan dikonsep dengan baik sebenarnya bertani cukup besar keuntungannya. Apalagi jika kita bisa mengembangkan varietas yang langka dan sedang dibutuhkan pasar,” katanya. 

Dijelaskan, disebut buah unggul karena bisa menghasilkan buah lebih berkualitas ketimbang buah umumnya. Tak jarang juga buah unggul yang merupakan hasil penelitian dan percobaan guna menghasilkan varietas buah yang maksimal kualitasnya. Pada awalnya buah-buah unggul dikenalkan sebagai tanaman buah dalam pot atau tabulampot dan menjadi tanaman pelengkap aksesori pekarangan rumah. Namun, jika dikembangkan sebagai usaha perkebunan ternyata tanaman buah unggul juga bisa menjadi solusi bisnis yang menguntungkan. 

Lebih jauh dijelaskan, hasil buahnya yang berkualitas menjadikan alasan utama untuk bisa membidik pasar. Selain itu beberapa jenis buah unggul juga bisa diatur masa panennya sehingga kontinuitas panen bisa diatur. Mengenai pola dan masa panen, beberapa varietas buah bisa diatur sehingga kita bisa menikmati panen secara berkala,” katanya. 

“Masalah harga yang jelas akan lebih mahal ketimbang buah biasanya karena hasilnya lebih berkualitas. Mengenai pasar juga masih sangat terbuka luas, setidaknya saya sendiri juga bisa bantu memasarkan,” katanya. 

Foto Buah Unggul artikel dikutip dari bisnis bali, 27 Des 2010.
Melihat perkembangan pertanian khususnya buah di Bali yang belum maksimal, membuat pria yang dulunya sebagai penyuluh pertanian dan selalu bergelut dengan petani ini tertarik untuk menjadi pemulia buah unggul.

”Yang diperlukan petani untuk mengembangkan pertanian mereka adalah varietas unggul. Tetapi dalam kenyataannya varietas unggul tersebut hampir tidak ada yang mengembangkan, akhirnya saya mencoba melakukan penelitian pada tahun 1998,” ungkap pria kelahiran Singaraja, 15 September 1955 ini.

Dalam penelitian awal tersebut, dirinya berusaha mencoba membuat varietas buah unggul yang cocok dikembangkan di Bali. Akhirnya, dirinya bergaul ke mana-mana mencari buku tentang cara menyilangkan buah, mengikuti berbagai seminar, bahkan mengunjungi LIPI.

Dari seminar serta petualangannya mempelajari cara memuliakan buah tersebut, menurut pria yang mengaku tidak pernah sekolah pertanian ini, akhirnya baru sadar bahwa pertanian potensinya besar. Karena itu dirinya kemudian mencari silabus tentang pemulian tanaman ke IPB Bogor. Dengan mencari silabus, ternyata dari silabus serta buku-buku yang dipelajari dirinya membuat percobaan-percobaan.

”Saya melakukan penelitian secara bertahap. Syaratnya harus tekun, tabah tidak bisa instan dalam percobaan yang saya lakukan,” ujar orangtua dari Gede Suriksiawan ini. 

Akhirnya dengan kesabaran serta ketekunannya, bapak satu anak ini mengetahui bagaimana menyilangkan jenis buah dalam satu family menjadi buah unggul meskipun secara konvensional. 

Pertama-tama dirinya melakukan percobaan menyilangkan buah srikaya ke kebun-kebun petani di Singaraja daerah potensi buah. Berusaha sambil sedikit demi sedikit melakukan pengembangan untuk dijual. ”Srikaya yang paling pertama saya silangkan dan sampai sekarang masih sambil mengumpulkan plasma nutfah buah lainnya seperti nangka, jeruk, dan jambu. 

Dalam mengembangkan buah-buah unggul dirinya tidak terlepas juga dari beberapa permasalahan yang dihadapinya. Masalah pokok yang pernah dialaminya dalam mengembangkan buah-buahan unggul antara lain keterbatasan lahan. Sebab, dalam mengembangkan plasma nutfah yang banyak memerlukan kebun yang luas pula. 

”Keterbatasan lahan menjadi kendala, karena saya masih bertahap maka saya atasi dengan menaruh ke kebun-kebun petani. Petani mengambil buah saya mengambil bunganya saja,” kata suami dari Luh Suastiti ini. 

Kebun itu juga seleksi tanaman dan harus dipantau hingga panen untuk mengetahui hasilnya mana yang paling bagus mana yang tidak. Untuk mengetahui keberhasilan menyilangkan buah tersebut memerlukan waktu yang cukup lama bertahun-bertahun.

Dalam mengembangkan buah unggul tantangan lainnya yaitu bunga. Misalkan pohon A serta pohon B kalau tidak berbarengan berbunga sulit untuk disilangkan. Tantangan lainnya, setelah tercipta varietas unggul tantangan selanjutnya adalah pasar. Karena ini baru dan tidak dikenal, permintaan awalnya masih sedikti, tetapi lama kelamaan ternyata permintaannya cukup bagus. 

Karena belum dikenal, dirinya sering membawa buah yang dihasilkannya ke swalayan langsung serta pasar tradisional. Bahkan respons sangat bagus, malah ditantang oleh salah satu swalayan besar di Bali untuk memproduksi dalam jumlah besar. 

”Pasarnya bagus, cuma mau tidak petani tekun serta bekerja keras untuk bisa menghasilkan buah yang alami jumlah yang dibutuhkan pasar,” katanya. 
 
Di antara varietas tanaman yang berpotensi besar diserap pasar, buah-buahan unggul bisa dijadikan sebagai solusinya untuk memaksimalkan hasil lahan pertanian. ”Asalkan dikonsep dengan baik sebenarnya bertani cukup besar keuntungannya. Apalagi jika kita bisa mengembangkan varietas yang langka dan sedang dibutuhkan pasar,” ujarnya. 

Hasil buahnya yang berkualitas menjadikan alasan utama untuk bisa membidik pasar. Selain itu beberapa jenis buah unggul juga bisa diatur masa panennya sehingga kontinuitas panen bisa diatur. “Mengenai pola dan masa panen, beberapa varietas buah bisa diatur sehingga kita bisa menikmati panen secara berkala,” ujarnya.
Sementara mengenai harga yang jelas akan lebih mahal ketimbang buah biasanya karena hasilnya lebih berkualitas.

Foto Buah Unggul, artikel dikutip dari bisnis bali, 21 Des 2010.
Bisnis bibit tanaman buah mengalami perkembangan cukup baik, itu ditandai dengan permintaan pasar akan berbagai jenis tanaman buah yang cukup tinggi hingga kini. Namun dari sekian banyak jenis bibit tanaman buah yang ditawarkan pebisnis di pasaran, bibit lengkenglah yang memiliki prospek cerah untuk diusahakan dan dibudidayakan di Bali saat ini.

MESKI kini berjibun jenis bibit buah unggul ditawarkan di pasaran, ternyata masyarakat telah mampu memilih, mana bibit unggul yang memiliki nilai pulus dan mana yang tidak, terutama dari segi ekonomi. Apalagi bagi kalangan petani, mereka tentu akan memiliih bibit yang hasilnya (buah-red) diminati pasar. Seperti dikatakan pemilik Stan Buah Unggul,  Made Supala di pameran Bali Expo'07.
Pasar tanaman buah unggul saat ini masih tetap stabil, meski tingkat keuntungannya sangat kecil. Berbeda dengan pasar tanaman hias lainnya seperti aglaonema dan lainnya yang sekali booming dan harganya bisa selangit, namun tiba-tiba turun kembali. Demikian diungkapkan, Made Supala, pemilik stan buah unggul di kawasan Padanggalak Sanur, belum lama ini.
Seiring dengan tingginya respons masyarakat akan tanaman hias belakangan ini, hal tersebut juga mendongkrak penjualan bibit tanaman buah.